So what do you want to talk about?


Being humble as he is, Kevin always concluded his long talk with such sentence, trying to avoid a one-sided, press conference vibe. but we ended up throwing another question to him anyway. This was the chance.

At glance, the public celebrates his oeuvre of beautiful tropical rustic buildings with fetish of details and tectonics. But beyond, Kevin Low is a very critical, rational, and straightforward architect. Learning from him, it was either an enlightenment or embarrassment—for the naivety of what i did as designer.

Kevin detested narcissistic architecture so much—that kind of building that instead of addressing the context, it chooses to stand out. After all, being "stand out" doesn't necessarily mean tacky facades. But only us, the designers ourselves should confess whether something is coming from our intention or actually what the context needs.

His good analogy was "here is the context, here is the problem, and the building that i designed is standing above the problem. "Look at me! I am the architecture!"

And astaghfirullah how many architecture were built that way. Hard to admit. We designed projects for months, realized them for years. why can't we show the little bit of "me" inside the design?

On the previous day, we met another Malaysian architect and we talked about Kevin Low too. "Oh He is too extreme, too critical" he complained jokingly. "But we need someone like him in the profession" he added.

Agreed. Kevin is SJW mentok max. Being critical is an enemy of many, after all. But we do need a person like him. Our conversation felt like chicken soup for the profession, to be digested for years.


#kevinlow has a good taste too. Restaurant Siu Siu was a killer.


Reminiscing #TWAMASYA to KL 2024

To this day…

To this day, i’m still dreaming of starting a band, writing music, and playing live. On a surface level, i always adore seeing musicians that have double identity : workers by day, musician at night, or weekend. I constantly fantasize myself being commented on my back,

“do you know? though Adi is a very strict architect, he plays alternative rock band by night — in fact, he will take a week off to do tour! I don’t know he has that side of him!” i know it is pitiful.

or proudly putting both account of my architecture studio and my band on my instagram bio. that would be cool as hell.

But really — there is this better-than-orgasm feeling, when you rack your brain and find very nice melody, and you repeat it hundred of times just to please yourself. Or when every words build a beautiful sentence, and they just keep pouring your blank sheet, you reread it again and you don’t feel cringed (this is rare moment).

Playing live, though, is rarer since you need companion to carry a song. I am well aware of my untidy guitar skill and my mostly-getting-mocked voice. I can tell exactly the last time I felt totally locked in during performance :

it was on 9th grade, at Zoom Studio. During rehearsal, Our band — Ned & The Needlefish covered Paramore’s Born for This.

We have rehearsed it many times and on a certain repeat, everything fell into places and on my drum seat, i just can feel “it” — raw feeling of excitement, i can picture there was some kind of “stream” that surrounded the small studio.

i think the scene from Blue Giant manga closely represent what i felt that moment

Though maybe had we got any documentation or recording during that moment, i am pretty sure that will sound terrible. But of all jammings, rehearsals and performances that I’ve done since 7th grade to college, that one was really memorable. Adis, Acong, Dipo, and David, i thank you for the memories. I am pretty sure they don’t remember such silly moment.

Now i am 28, and i thought i had moved on all that feeling. There is some part in my heart that wish to scream, to be heard. I assume it is that kind of emotion that has not been fed — if you are sad, you cry (or now hitting the gym or running), if you are horny, you have sex. I cannot identify this emotion, that kind of feeling that need to be expressed melancholically and beautifully. I cannot create painting, I cannot dance, so it should be through song.

These days I patched the feeling by attending many concerts. While I am grateful that by now I have completed many wishlists before I die (does it mean my death comes faster?) the feeling of “receiving” emotion is obviously different from “expressing” emotion. So it has not been healed. I’ve watched Slipknot, A Day to Remember, Saosin, Asian Kung Fu Generation, and this September will be Toe. But the only concert that hit me like a night inter-province bus was that Makoto Shinkai concert on 2024. I wailed like a baby for two hours straight. I long for that feeling again. an art that left me vulnerable. Thats the word. i long for being vulnerable.

But of course creating music was never easy. I have recorded many melodies that i thought were good since 2018, but none of them really grow into a song that has intro-verse-chorus. At best they were as worthy as ringtone or alarm. Let alone marry them with lyrics. I never think myself as bad writer, and pretty sure my literary vocab is decent. But creating lyrics is another kind of animal, and being suffering in constant anxiety, I don’t know what to pour first.

Maybe i am writing this as a cry for help. I don’t think much about die young, or maybe failing as architect and banting setir to corporate worker. But to die before releasing single — or if i could be greedy — an EP, that would haunt me.

Onward dan Keajaiban Cerita Keluarga Biasa

Poster promosi untuk Onward — tidak salah jika impresi pertama yang muncul adalah semacam sequel atau spin-off dari The Smurfs.

Posternya sama sekali tidak menarik. Dua sosok seperti Smurf — hanya saja sudah tidak imut, karena terlihat seperti remaja — satu memakai kemeja, memegang tongkat sihir, satunya lagi ber-denim, nampaknya sidekick-nya. Judulnya pun tidak membantu : Onward — maju. Ada fetish apa sih Disney dengan kata sifat? rasanya ada puluhan portofolio Pixar yang bisa dilabeli ‘onward’. Karena mood saat itu sedang ingin menonton film yang ringan-ringan saja, pilihannya hanya ini.

Film ini menceritakan keluarga Lightfoot : kakak-adik Barley dan Ian, beserta ibunya, Laurel. Saat memeringati ulang tahunnya yang ke-16, Ian menerima kado yang telah lama disiapkan oleh mendiang ayah. Di dunia yang sihir sudah tergantikan dengan sains dan energi listrik, mereka malah mendapatkan kado berupa tongkat sihir dan mantra untuk menghidupkan kembali ayahnya selama 24 jam. Benar saja, setelah berkali-kali percobaan, Ian hanya mampu mengembalikan ayahnya dari bagian kaki hingga pinggul saja — tipikal lelucon Pixar. Berbekal pengetahuan luas Barley mengenai dunia sihir (di universe ini Barley bisa dibilang wibu), sang kakak, adik, dan kaki Ayah kemudian berpetualang untuk menuntaskan mantranya.

Onward memakai plot khas film keluarga : muncul masalah, kemudian di pertengahan film melakukan perjalanan panjang yang diiringi lagu — kalau kalian ingat film Bolt, adegan serupa yang diiringi musiknya Jenny Lewis dan Miley Cyrus sangat-sangat terasa damai dan tenteram, bahkan ketika di TV lagunya di-dubbing — Senangnya, di Onward juga ada. Terdapat pula pertengkaran antar karakter, yang biasanya dipicu satu kalimat yang menyakitkan seperti, “aku tidak butuh kamu!” kemudian mereka berjalan sendiri-sendiri, hingga akhirnya rukun kembali. Dalam beberapa hal, menjadi tipikal seperti ini sama sekali bukan hal yang buruk. Justru, plot-plot ringan dan sejuk seperti inilah yang membuat saya selalu kembali untuk menonton garapan Pixar dan Disney.

Adegan saat Barley (Tengah) mengetuk kaki Ayahnya.

Saya benar-benar terkesima dan sulit untuk tidak membahas konsep karakter kaki Ayah ini. Hampir sebagian besar adegan yang membuat gelak tawa di film ini muncul karena gestur-gesturnya — sangat slapstick. Rasanya bisa dihitung jari, berapa film animasi beberapa tahun belakang yang masih benar-benar mengeksplorasi metode ini. Tanpa dialog sedikitpun, Kaki Ayah mengingatkan kita ke era klasik Disney — pemadam kebakaran mengkomando api agar baris-berbaris, atau perabotan yang memiliki akal di film Beauty and The Beast. Mereka sama-sama mengambil hal-hal biasa di sekitar kita, kemudian menyulapnya menjadi hal yang hanya terpikirkan oleh anak-anak — sederhana, tapi ekspresif dan konyol.

Kejutan belum berhenti di situ. Seorang Ibu pun juga bisa berpetualang. Laurel adalah seorang single mother yang menggemari acara senam pagi dan cukup berantakan dalam mengatur rumahnya. Umumnya, template yang terjadi seperti ini : ketika kedua anaknya kabur, biasanya sang Ibu kaget, kemudian mengharapkan anaknya kembali dengan selamat dan hanya bisa menanti di rumah. Sedikit perbedaannya — Laurel ikut mengejar mereka berdua. Sehingga plot terbagi sama besarnya antara Lightfoot bersaudara dengan Nyonya Lightfoot ini. Betapapun straightforward-nya film-film Pixar, yang seperti ini adalah plot twist yang menyegarkan, dan Onward berhasil memotret realitas single mother dengan baik.

Satu yang membuat saya agak gatal, adalah alur ceritanya. 24 jam untuk menghidupkan ayahnya kembali memang mendebarkan. Namun, sebagai film bergenre fantasi, hal ini menjadi pisau bermata dua karena petualangannya menjadi terasa kurang ‘melelahkan’. Ada perasaan yang memuaskan : ketika kita disuguhkan berbagai scene dengan latar yang eksotis, fantastis, megah, melewati berbagai cuaca dan siang malam, kemudian ketika mencapai tujuan, membuat kita menghela napas, “akhirnya sampai juga!”. Di Onward, kita memang masih disuguhkan dengan setting yang eksotis, namun ketika disadarkan kembali bahwa semua itu ternyata dilewati cukup dalam sehari perjalanan mobil, semuanya jadi terasa kurang grandeur.

Sisanya, seperti film keluarga lainnya, Onward kaya akan pesan moral. Hubungan kakak-adik yang semakin kompleks dan kuat, Ibu yang selalu ikut campur, usaha keras untuk melindungi kenangan samar seorang anggota keluarga, hingga betapapun ajaibnya sebuah sihir, pada akhirnya tidak akan bisa mengubah suatu takdir — yang terakhir ini ada hubungannya dengan klimaks. Namun terlalu sentimental dan saya sama sekali tidak tega untuk sedikitpun membahasnya — .Saya senang menonton film sendirian. Namun, selalu ada film yang lebih menyenangkan jika ditonton bersama. Onward salah satunya. Lain kali, jika memang kategorinya ‘film keluarga’, saya akan mengindahkan itu.

Onward

Dan Scanlon

diproduksi oleh Pixar Animation Studios & Walt Disney Pictures

Shiori Experience : Bagaimana Cara Menyatukan Idola Kalian dalam Satu Panggung

sampul volume 1 Shiori Experience : Jimi na Watashi to Hen na Ojisan


Waktu kecil, satu-satunya momen yang membuat keluarga kami tidak berebut remote TV adalah ketika menonton acara konser, terutama yang berhubungan dengan awarding night atau ulang tahun saluran TV manapun. Karena di acara seperti itu semua artis favorit kami berkumpul semua : ibu suka Krisdayanti, ayah Rhoma Irama, sementara saya dan kakak suka Dewa 19, Peterpan, dan semacamnya. Salah satu yang samar-samar tapi super berkesan di masa itu adalah melihat semua penyanyi favorit saya tampil di satu panggung, yang mestinya saat itu saya pasti segera lompat kegirangan. Baru belakangan saya tahu persis siapa saja mereka dan tampil di acara apa karena meme yang sekejap lewat : Ariel, Once, Fadli, Duta, dan Krisyanto di acara AMI 2006. Saya yakin waktu itu di tempat yang berbeda, kalian juga sedang ikut heboh.

Konsep kolaborasi musisi selalu membuat fans kegirangan. Ketika tengah menikmati konser tiba-tiba satu musisi lain naik panggung, teriakan pengunjung yang kemudian menyusul bisa jadi lebih keras daripada teriakan saat penampil utamanya memainkan lagu hits mereka. Saya sendiri — dan kalian semua juga — pasti sering melamun membayangkan bagaimana jika musisi kesukaan yang satu bermain dengan musisi kesukaan yang satunya lagi. Sama nikmatnya dengan menyusun fanfiction film kesukaan kalian yang tersimpan di kepala.

Melamun memang satu-satunya yang bisa dilakukan. Banyak yang sukar tercapai : bisa jadi musisi favorit kalian adalah yang sudah meninggal, ingin menaruh Ariel Noah dengan Thom Yorke di big event kampus, atau ketika kalian bisa bermusik pun, seberapa sih kapasitas kalian untuk cukup berani menuliskan, atau sekadar membayangkan musik yang muncul dari gabungan idola tercinta kalian?

Sehingga, rasanya menuangkan angan-angan seperti itu menjadi musik, lebih-lebih film, terlalu utopis. Kalaupun menulis, kata-kata sama sekali belum sanggup untuk menjelaskan serunya gaya perform idola-idola kita — jadi, mungkin novel grafis atau manga?

Benar saja, saya menemukan satu. Jika manga tentang kecoa imut saja ada, tentu saja fanfiction konyol soal Jimi Hendrix merasuki guru SMA juga ada. Tapi, manga ini bukan main-main, ia masih berlanjut sampai sekarang hingga 14 volume.

Shiori Experience mengambil setting yang dipakai ribuan manga lainnya : lingkungan SMA dan kehidupan ekskul di dalamnya. Bedanya, tokoh utamanya, Shiori, adalah seorang guru bahasa Inggris yang pemalu dan berpenampilan pas-pasan. Saat ulang tahunnya yang ke-27, bersamaan dengan festival budaya sekolah, hantu dari gitaris Jimi Hendrix muncul di hadapannya, merasuki dirinya, dan mengambil alih panggung klub orkestra dengan bermain gitar (FYI, band yang Ia gawangi bernama The Jimi Hendrix Experience-dari sini mula judulnya). Tanpa sepengetahuan Shiori, Jimi Hendrix mengklaim bahwa Shiori telah membuat kontrak dengannya, dan apabila Shiori tidak menjadi rockstar dalam setahun, Shiori akan mati, sama seperti Jimi Hendrix dan musisi lainnya yang tergabung dalam urban legend “Club 27” : para rockstar yang tutup usia di umur 27.


“jack-in!!” cara Jimi Hendrix merasuki tubuh Shiori agar bisa bermain gitar.


Manga ini mencampurkan berbagai premis cerita shonen : memulai karir lewat klub sekolah, adanya pairing dengan makhluk supernatural, dalam hal ini Shiori dengan Jimi Hendrix, dan kemudian nanti bertemu dengan karakter lain yang dirasuki Kurt Cobain misal, mengingatkan kita dengan Light dan Ryuk di Death Note, atau Gash Bell. Referensi skena musik rock yang akurat dan kaya juga membawa nostalgia membaca BECK atau Solanin, yang mana ceritanya juga berkutat bermain di club house kecil di Tokyo, kegamangan menjadi musisi atau pekerjaan yang mapan, hingga mitos musisi yang menjalin kontrak dengan iblis. Yang terakhir ini, membuat Shiori Experience susah untuk tidak dibandingkan dengan kedua masterpiece tersebut.

Mungkin salah saya adalah membaca manga BECK dan Solanin duluan, sementara baru menemukan Shiori Experience belakangan. Soal tema, demografinya saja sudah berbeda, BECK dan Solanin adalah komik yang dibaca oleh mahasiswa galau yang bermain musik, krisis eksistensi, dan mempertanyakan masyarakat, sementara Shiori Experience adalah bacaan untuk remaja SMA yang masih segar-segarnya semangat memegang instrumen musik. Dari segi gambar, karena terlanjur melihat gambar Solanin yang maha detail atau BECK yang memang realistis, hingga gestur karakter-karakternya bisa mengingatkan kita kepada rockstar-rockstar betulan, Shiori Experience adalah Adventure Time-nya komik-komik dewasa tersebut, gambarnya sangat kartun, sehingga agak sulit untuk memposisikannya sebagai komik yang serius.

salah satu panel dari BECK (Harold Sakuishi). ini salah satu manga favorit saya. di sini, tokoh Taira, sangat mirip personanya dengan Flea RHCP.


Tapi, Shiori Experience adalah contoh manga di mana konsep yang bagus bisa mengalahkan alur cerita dan gambar yang generik. Bagaimanapun penuhnya manga ini dengan jargon-jargon klise “pantang menyerah”, “persahabatan”, dan sejenisnya, memasukkan Jimi Hendrix, Curt Cobain, atau Janis Joplin ke dalam dunia manga adalah ide yang sudah sinting duluan. Usaha mangakanya menggambarkan persona rockstar ini pun cukup diwujudkan dengan baik : gitar Jimi Hendrix yang terbalik karena kidal, kelakuan Kurt Cobain yang moody dan malas, semua ditabrakkan dengan karakter lain yang memiliki persona shonen yang kuat.

Jimi Hendrix ft. Kurt Cobain. yang seperti ini cuma bisa terjadi di manga.


Tentu saja, puncaknya adalah bagaimana para musisi yang seharusnya tidak akan pernah bertemu ini kemudian berhadapan, saling terkagum dengan musikalitasnya masing-masing, dan bermain bersama. Bayangkan saja scene ini : dua legenda, Jimi Hendrix dan Kurt Cobain, memainkan Smells Like Teen Spirit, disisipi improvisasi gitar solo oleh Jimi Hendrix, di sebuah venue kecil di Tokyo, dan digambarkan dalam empat halaman spread. Saya berani taruhan, bahwa adegan-adegan seperti inilah yang memang menjadi obsesi utama bagi kedua mangakanya. Impian fanboying mereka terwujud.

Shiori Experience : Jimi na Watashi to Hen na Ojisan (2013-sekarang)

Yu-Ko Osada & Kazuya Machida

diterbitkan oleh Big Gangan