 |
| sampul volume 1 Shiori Experience : Jimi na Watashi to Hen na Ojisan |
Waktu kecil, satu-satunya momen yang membuat keluarga kami tidak berebut remote TV adalah ketika menonton acara konser, terutama yang berhubungan dengan awarding night atau ulang tahun saluran TV manapun. Karena di acara seperti itu semua artis favorit kami berkumpul semua : ibu suka Krisdayanti, ayah Rhoma Irama, sementara saya dan kakak suka Dewa 19, Peterpan, dan semacamnya. Salah satu yang samar-samar tapi super berkesan di masa itu adalah melihat semua penyanyi favorit saya tampil di satu panggung, yang mestinya saat itu saya pasti segera lompat kegirangan. Baru belakangan saya tahu persis siapa saja mereka dan tampil di acara apa karena meme yang sekejap lewat : Ariel, Once, Fadli, Duta, dan Krisyanto di acara AMI 2006. Saya yakin waktu itu di tempat yang berbeda, kalian juga sedang ikut heboh.
Konsep kolaborasi musisi selalu membuat fans kegirangan. Ketika tengah menikmati konser tiba-tiba satu musisi lain naik panggung, teriakan pengunjung yang kemudian menyusul bisa jadi lebih keras daripada teriakan saat penampil utamanya memainkan lagu hits mereka. Saya sendiri — dan kalian semua juga — pasti sering melamun membayangkan bagaimana jika musisi kesukaan yang satu bermain dengan musisi kesukaan yang satunya lagi. Sama nikmatnya dengan menyusun fanfiction film kesukaan kalian yang tersimpan di kepala.
Melamun memang satu-satunya yang bisa dilakukan. Banyak yang sukar tercapai : bisa jadi musisi favorit kalian adalah yang sudah meninggal, ingin menaruh Ariel Noah dengan Thom Yorke di big event kampus, atau ketika kalian bisa bermusik pun, seberapa sih kapasitas kalian untuk cukup berani menuliskan, atau sekadar membayangkan musik yang muncul dari gabungan idola tercinta kalian?
Sehingga, rasanya menuangkan angan-angan seperti itu menjadi musik, lebih-lebih film, terlalu utopis. Kalaupun menulis, kata-kata sama sekali belum sanggup untuk menjelaskan serunya gaya perform idola-idola kita — jadi, mungkin novel grafis atau manga?
Benar saja, saya menemukan satu. Jika manga tentang kecoa imut saja ada, tentu saja fanfiction konyol soal Jimi Hendrix merasuki guru SMA juga ada. Tapi, manga ini bukan main-main, ia masih berlanjut sampai sekarang hingga 14 volume.
Shiori Experience mengambil setting yang dipakai ribuan manga lainnya : lingkungan SMA dan kehidupan ekskul di dalamnya. Bedanya, tokoh utamanya, Shiori, adalah seorang guru bahasa Inggris yang pemalu dan berpenampilan pas-pasan. Saat ulang tahunnya yang ke-27, bersamaan dengan festival budaya sekolah, hantu dari gitaris Jimi Hendrix muncul di hadapannya, merasuki dirinya, dan mengambil alih panggung klub orkestra dengan bermain gitar (FYI, band yang Ia gawangi bernama The Jimi Hendrix Experience-dari sini mula judulnya). Tanpa sepengetahuan Shiori, Jimi Hendrix mengklaim bahwa Shiori telah membuat kontrak dengannya, dan apabila Shiori tidak menjadi rockstar dalam setahun, Shiori akan mati, sama seperti Jimi Hendrix dan musisi lainnya yang tergabung dalam urban legend “Club 27” : para rockstar yang tutup usia di umur 27.
 |
| “jack-in!!” cara Jimi Hendrix merasuki tubuh Shiori agar bisa bermain gitar. |
Manga ini mencampurkan berbagai premis cerita shonen : memulai karir lewat klub sekolah, adanya pairing dengan makhluk supernatural, dalam hal ini Shiori dengan Jimi Hendrix, dan kemudian nanti bertemu dengan karakter lain yang dirasuki Kurt Cobain misal, mengingatkan kita dengan Light dan Ryuk di Death Note, atau Gash Bell. Referensi skena musik rock yang akurat dan kaya juga membawa nostalgia membaca BECK atau Solanin, yang mana ceritanya juga berkutat bermain di club house kecil di Tokyo, kegamangan menjadi musisi atau pekerjaan yang mapan, hingga mitos musisi yang menjalin kontrak dengan iblis. Yang terakhir ini, membuat Shiori Experience susah untuk tidak dibandingkan dengan kedua masterpiece tersebut.
Mungkin salah saya adalah membaca manga BECK dan Solanin duluan, sementara baru menemukan Shiori Experience belakangan. Soal tema, demografinya saja sudah berbeda, BECK dan Solanin adalah komik yang dibaca oleh mahasiswa galau yang bermain musik, krisis eksistensi, dan mempertanyakan masyarakat, sementara Shiori Experience adalah bacaan untuk remaja SMA yang masih segar-segarnya semangat memegang instrumen musik. Dari segi gambar, karena terlanjur melihat gambar Solanin yang maha detail atau BECK yang memang realistis, hingga gestur karakter-karakternya bisa mengingatkan kita kepada rockstar-rockstar betulan, Shiori Experience adalah Adventure Time-nya komik-komik dewasa tersebut, gambarnya sangat kartun, sehingga agak sulit untuk memposisikannya sebagai komik yang serius.
 |
| salah satu panel dari BECK (Harold Sakuishi). ini salah satu manga favorit saya. di sini, tokoh Taira, sangat mirip personanya dengan Flea RHCP. |
Tapi, Shiori Experience adalah contoh manga di mana konsep yang bagus bisa mengalahkan alur cerita dan gambar yang generik. Bagaimanapun penuhnya manga ini dengan jargon-jargon klise “pantang menyerah”, “persahabatan”, dan sejenisnya, memasukkan Jimi Hendrix, Curt Cobain, atau Janis Joplin ke dalam dunia manga adalah ide yang sudah sinting duluan. Usaha mangakanya menggambarkan persona rockstar ini pun cukup diwujudkan dengan baik : gitar Jimi Hendrix yang terbalik karena kidal, kelakuan Kurt Cobain yang moody dan malas, semua ditabrakkan dengan karakter lain yang memiliki persona shonen yang kuat.
 |
| Jimi Hendrix ft. Kurt Cobain. yang seperti ini cuma bisa terjadi di manga. |
Tentu saja, puncaknya adalah bagaimana para musisi yang seharusnya tidak akan pernah bertemu ini kemudian berhadapan, saling terkagum dengan musikalitasnya masing-masing, dan bermain bersama. Bayangkan saja scene ini : dua legenda, Jimi Hendrix dan Kurt Cobain, memainkan
Smells Like Teen Spirit, disisipi improvisasi gitar solo oleh Jimi Hendrix, di sebuah venue kecil di Tokyo, dan digambarkan dalam empat halaman spread. Saya berani taruhan, bahwa adegan-adegan seperti inilah yang memang menjadi obsesi utama bagi kedua mangakanya. Impian fanboying mereka terwujud.
Shiori Experience : Jimi na Watashi to Hen na Ojisan (2013-sekarang)
Yu-Ko Osada & Kazuya Machida
diterbitkan oleh Big Gangan